


Dunia terguncang, setelah ditemukannya virus baru penebar maut yang diberi nama Covid-19 dibelahan negeri tirai bambu china tepatnya di kota Wuhan. Selain merusak tatanan kehidupan, pandemi corona juga melahirkan berbagai gangguan psikologis berupa stres yang berwujud dalam bentuk ketakutan, kegelisahan, dan kecemasan yang dialami orang dewasa maupun anak – anak. Didalam situasi pandemi virus corona, biasanya kecemasan hadir dalam beragam bentuk diantaranya ketakutan terhadap kematian, ketakutan akan kehilangan pekerjaan, masalah ekonomi, anak – anak tidak bisa pergi ke sekolah ataupun bermain diluar, serta adanya perubahan kebiasaan yang tiba – tiba berubah membuat masyarakat merasa cemas. Beberapa faktor yang menyebabkan kegelisahan pada masa pandemi Covid-19 adalah kurangnya informasi mengenai kondisi saat ini, pemberitaan yang terlalu heboh dimedia masa ataupun media sosial, kegelisahan dapat menyebabkan insomnia dan masalah tidur lainnya seperti kesulitan untuk fokus dan setres berlebihan
Sebuah penelitian yang dirilis pada tahun 2019 oleh The Lancet menyebutkan bahwa sekitar 12,5% dari populasi global akan memiliki masalah dengan kesehatan mental mereka pada suatu saat dalam hidup mereka. Selanjutnya, pada tahun 2021, studi lain The Lancet menemukan bahwa tekanan psikologis, depresi, dan gangguan kecemasan umum ditemukan selama setengah tahun terjadinya pandemi Covid-19, yakni selama Juli-September 2020. Sebanyak 42 persen orang dalam penelitian tersebut mengalami tekanan psikologis ringan selama pandemi. Meskipun dikategorikan ringan, persentase tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan angka pada tahun 2018 yang hanya menyentuh angka 32% Pada Oktober 2021 lalu, Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa pandemi COVID-19 menyebabkan peningkatan pada kasus gangguan jiwa dan depresi hingga 6,5% di Indonesia. Survei yang dilakukan Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) pada tahun 2020 menemukan, sebanyak 63 persen responden mengalami cemas dan 66 persen responden mengalami depresi akibat pandemi COVID-19.
Mengatasi cemas dapat dilakukan beberapa terapi psikologis sederhana, yang inti tujuannya adalah menstimulasi pikiran berpikir logis agar perasaan dan pikiran negative dapat di halau. Terapi yang cukup popular dan mudah dilakukan adalah realksasi. Relaksasi adalah suatu proses untuk melepaskan ketegangan yang ada secara sengaja atau disadari. Dengan melakukan relaksasi, maka diri tetap tenang dan dapat terkontrol meskipun sedang menghadapi situasi yang penuh dengan tekanan. Relaksasi juga dapat menghindarkan perasaan cemas, gelisah dan amarah yang dapat menjadi penghalang untuk berpikir jernih. Hasil penelitian menunjukan bahwa jika melakukan relaksasi selama beberapa.
Dengan adanya masalah ini maka dosen dari fakultas ilmu keseahatan universitas dr. Soebandi jember yaitu Ns. Zidni Nuris Yuhbaba, Ns, Wahyi Sholehah dan Ns. M.Elyas Arif Budiman mengadakan kegaiatan pengabdian masyarakat dengan topik EDUKASI DAN IMPLEMENTASI RELAKSASI BENSON UNTUK MENURUNKAN KECEMASAN MASYARAKAT DI MASA PANDEMI COVID 19 dengan Tujuan dan manfaat pelaksaan pengabdian ini adalah untuk mengurangi kecemasan yang dirasakan masyarakat. Serta dapat memberi masukan tentang bagaimana masyarakat mencegah kecemasan melalui relaksasi Benson.
.
